Yewangoe Membuka KONAS V Gereja dan AIDS

Yewangoe mengakui bahwa isu AIDS tidak saja menimbulkan masalah sosiologis, tetapi juga teologis. Sejak awal memang kemunculan virus HIV distigma sebagai penyakit kutukan yang disebabkan oleh ulah manusia yang berbuat dosa (misalnya perilaku seks yang melanggar Perintah Tuhan). Stigma tersebut menyebabkan mereka yang terinfeksi HIV memperoleh label manusia yang kotor karena dosanya sendiri, sehingga mereka dijauhi dan didiskriminasi.

Pandangan tersebut sudah seharusnya kita tinggalkan. Kita tidak bisa lagi mengaitkan penyakit HIV dengan dosa. Mengutip Luther, Yewangoe mengatakan, “Ada dua kondisi dalam kehidupan manusia, yaitu kekudusan/kesucian dan keberdosaan.” Kedua kondisi inilah yang salah diinterpretasikan bahwa mereka yang terpapar HIV berada pada posisi keberdosaannya. Mereka yang berpikiran seperti itu merasa dirinya lebih suci dari orang-orang yang terpapar HIV. Pandangan seperti ini harus diluruskan oleh gereja.

KONAS V ini secara resmi dibuka oleh Pdt. Dr. A. A. Yewangoe mewakili Majelis Pekerja Harian PGI. Tema Konas adalah: “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang (Mzm. 145:9a)” dan subtema: “Menjadi Gereja yang Kompeten dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV dan AIDS Tanpa Stigma dan Diskriminasi.”

Sekitar 100 orang lebih mengikuti KONAS ini yang terdiri dari 32 Sinode, 4 PGIW dan 8 mitra PGI. Selama 3 hari para peserta mengikuti KONAS ini (12-15 Oktober). KONAS diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Ibu Rita Rompas (Liturgos) dan Pdt. Sepherd Supit (pembawa Firman Tuhan dengan bacaan dari Kitab Habakuk 2). Selain Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (dari MPH-PGI), KONAS ini juga dihadiri oleh beberapa anggota MPH-PGI, Pdt. Dr. Wati Longchar (dari Serampore University, India), dan Ibu Naning S (dari Kementerian Kesehatan RI).

Oleh: Boy Tonggor Siahaan