Sekum PGI: Perdamaian dalam Kebersamaan dan Keadilan bagi Semua

Silaturahmi Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri dengan Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda, Jakarta - Kamis (23/7).(Foto: Humas PGI)

JAKARTA, PGI.OR.ID – Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom mengatakan bahwa perdamaian sejati adalah dalam kebersamaan dan membutuhan persyaratkan keadilan bagi semua, demikian disampaikan pada pertemuan silaturahmi bersama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti bersama para tokoh agama dan pemuda di Jakarta, Kamis (23/7). Tampak hadir dalam pertemuan tersebut Prof Azyumardi dan KH Ma’ruf Amin bersama para tokoh agama dan tokoh pemuda dari berbagai organisasi.

Pendeta Gomar Gultom menjelaskan dalam sambutannya bahwa pada dasarnya setiap agama menawarkan damai sejahtera kepada dunia ini, sebuah dunia tanpa kekerasan, dunia yang adil dan tanpa pelanggaran HAM adalah cita-cita yang terus diperjuangkan di dunia hingga hari ini. Dan tak satu agama pun di dunia ini yang tak mendambakan suasana damai.

Masalah upaya damai tersebut muncul ketika memasuki ruang publik, yakni ketika terjadi perebutan ruang dan pengaruh dari para penganut agama-agama itu. Dan dalam mencapai damai bagi dirinya, manusia sering mengorbankan rasa damai orang lain. Untuk itulah menurut Pendeta Gomar Gultom upaya perdamaian yang sejati adalah di dalam kebersamaan dan perdamaian sejati menuntut adanya syarat keadilan bagi semua.

Pada kesempatan bersilaturahmi dengan para pejabat negara yang berwenang atas keamanan negara dan perdamaian di tengah masyarakat Indonesia tersebut, Pendeta Gomar mengingatkan kemajemukan bangsa tidak saja menjadi kekayaan dan kekuatan bangsa, tetapi pada saat yang sama juga menjadi kelemahan kalau tidak dikelola dengan baik.

“Saya kira dalam kerangka itulah bangsa kita menempatkan Pancasila dan Konstitusi sebagai pijakan bersama kita dalam mengembangkan perdamaian dan kerukunan. Dan sejarah telah membuktikan, bangsa kita mampu menjaga perdamaian dan merajut kerukunan di tengah keragaman yang ada. Kerukunan yang otentik lahir dari pengalaman eksistensial masyarakat dan bangsa kita,” demikian kata Pendeta Gomar dengan menegaskan kerukunan otentik ini bisa menjadi sumbangan Indonesia bagi peradaban dunia, ditengah makin merebaknya konflik dan peperangan yang semakin mewarnai perjalanan umat manusia di dunia ini.

gomargultom3
Kepala BIN Sutiyoro, tengah menyambut, hadirin Silaturahmi bersama Panglima TNI, Kapolri danTokoh Agama dan Tokoh Pemuda, di rumah dinasnya. (Foto: Humas PGI)

Mengupayakan Kerukungan Otentik Indonesia

Dalam rangka meningkatan kewaspadaan dan ketahanan nasional, Prof Azyumardi Azra dalam sambutannya mengungkapkan ide yang sangat menarik, yakni perlunya dikembangkan program deradikalisasi, penguatan kerukunan, peningkatan komunikasi sosial dan pengembangan Media sosial yang mengarah kepada journalisme perdamaian (peace journalism) dan bukan jurnalisme yang memprovokasi.

KH Ma’ruf Amin dari MUI dalam sambutannya menekankan perlunya penguatan kerukunan dalam 4 bingkai kerukunan. Empat bingkai tersebut adalah bingkai Politik, yakni bingkai Empat Pilar Kebangsaan yang sudah final, bingkai teologis yakni dengan adanya teologi kerukunan bukan teologi konflik; Bingkai Yuridis dengan pembuatan dan penegakan hukum serta bingkai sosiologis dengan menggunakan kearifan lokal, yang melengkapi ketiga bingkai lainnya.

Menyikapi terjadinya gesekan ditengah masyarakat Indonesia pada akhir-akhir ini, Pendeta Gomar Gultom melihat hal ini sebagai sebuah dinamika berbangsa dan bermasyarakat. “Tetapi kita tidak bisa menyerah atas itu dan dengan serta merta mengatakan Kerukunan telah gagal diterapkan di Indonesia,” demikian tegasnya.

Mencontohkan apa yang terjadi di Tolikara, Pendeta Gomar Gultom mengatakan, “Kita semua terkejut dan terhenyak. Tak seorang pun di antara kita bisa menerima ini, apapun alasannya. Tadi Kyai Ma’ruf Amin menyebutkan di Papua agama-agama biasa berdampingan secara damai. PGI sejak awal secara terbuka mengecam peristiwa ini dan meminta Polri segera mengusut tuntas dan menyelesaikan masalah ini seadil-adilnya, sama halnya dengan kasus sejenis di tempat lain.”

“Kita bersyukur bahwa masalah ini bisa segera dapat diatasi. Terimakasih kepada pemerintah dan aparat negara, juga para pemimpin agama yang hadir meneduhkan umatnya masing-masing,” lanjut Pendeta Gomar.

“PGI siap bekerjasama dan membantu Bapak-bapak dalam menjalankan tugas berat ini, tentu sepanjang koridor yang memungkinkan. Kami mendoakan kiranya kesehatan, kekuatan dan hikmat dikaruniai bagi Bapak-bapak memimpin ketiga instansi penting ini,” demikian tanggapan dan harapan Pendeta Gomar Gultom.

GIDI bukan Kelompok Radikal

Menanggapi pertanyaan apakah Gereja Injil di Indonesia (GIDI) kelompok radikal, Pendeta Gomar mengatakan dalam perspektif teologisnya, GIDI bukanlah fundamentalis. Ini adalah kelompok injili dengan semangat kebangunan iman. “Mereka jelas menerima Pancasila dan Konstitusi. Yang saya pahami: mereka selama ini merasakan kehilangan segala-galanya di Papua ~ kehilangan sumber ekonomi, tanah, kultur, dan lainnya. Mereka merasa, yang tinggal hanyalah agama yang bisa mereka peluk. Inilah yang hendak mereka lindungi tanpa diganggu oleh para pendatang,” demikian jelas Pendeta Gomar.

“Peristiwa di Tolikara hendaknya juga menyadarkan kita bahwa masih ada soal-soal yang belum selesai dalam kita merajut damai dan kerukunan ini. Saya mengajak kita untuk konsisten mengatakan: tidak ada satu wilayah pun di Republik ini yang bisa dikapling sebagai wilayah kelompok tertentu atas nama etnis atau agama tertentu, dimana saja, tidak hanya di Papua. Kita harus konsisten untuk memperjuangkan bahwa agama apapun memiliki hak yang sama dan perlindungan yang sama dalam menjalankan kebebasannya beragama, di manapun di nusantara ini,” tegasnya.

PGI menghimbau negara untuk tidak mau kalah dengan kelompok-kelompok intoleran, negara harus mengusut dan menindak tegas segala kelompok yang memaksakan kehendak yang mencederai konstitusi dan HAM, demikian kata Pendeta Gomar sambil mengingatkan pendekatan keempat bingkai toleransi yang disampaikan oleh Kyai Ma’ruf Amin dapat menjadi rujukan dan tidak hanya semata pendekatan keamanan.

Lanjut Pendeta Gomar, “Tapi saya harus katakan juga, yang punya alat pemaksa di negara ini adalah pemerintah. Kami dari kelompok agama adalah kekuatan moral. Maka tugas pemerintahlah untuk melucuti kelompok-kelompok milisi yang sering menciderai kemajemukan dan kerukunan kita, demi kewibawaan negara.”

“PGI dan saya kira para pimpinan umat siap bekerjasama, saya juga menghimbau para pemimpin umat untuk mencerdaskan umatnya dalam beragama. Hanya dengan demikian kita bisa merajut perdamian dan kerujunan di tengah kemajemukan ini,” demikian Pendeta Gomar mengakhiri sambutannya.