PGI Hadiri Ziarah untuk Keadilan Iklim di Perhentian Wuppertal

Pendeta Gomar Gultom tengah berbincang dengan Menteri Lingkungan Republik Federal Jerman Dr. Barbara Henrick (Foto: Dok. pribadi)

WUPPERTAL, PGI.OR.ID – Masyarakat Jerman menyelenggarakan Ziarah untuk Keadilan Iklim (Pilgrimage for Climate Justice), yang dimulai dengan jalan kaki dari Flensburg pada tanggal 13 September 2015 lalu dan akan berakhir di Paris pada Tanggal 18 Nopember 2015 mendatang, menjelang Koperensi Tingkat Tinggi 150 negara tentang Perubahan Iklim di Paris.

Pada acara perhentian mereka di Wuppertal – Jerman, 24-25 Oktober, Pendeta Gomar Gultom dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) diundang untuk menyampaikan sambutan yang mewakili suara Asia bersama Dr Guilermo Kerbe mewakili Dewan Gereja Dunia (DGD/World Council of Churches-WCC) pada perhentian dua hari ini. Acara penyambutan yang diselenggarakan di sebuah lapangan terbuka ini, dihadiri oleh Bishop Rheinland, Praeses Manfred Rekowski dan Uskup/Vikjen Dr Dominik Meiering, Walikota Wuppertal yang baru terpilih, dan Menteri Lingkungan Republik Federal Jerman, Dr Barbara Hendricks.

Peda kesempatan penyampaian sambutan singkat, Pendeta Gomar Gultom menyampaikan masyarakat di belahan selatanlah yang paling menderita atas krisis lingkungan hidup, karena eksploitasi alam yang berakar pada keserakahan yang tanpa batas ditambah dengan terjadinya kolusi penguasa dan pengusaha, serta penerapan standard ganda perusahan Multi Nasional yang beroperasi di Indonesia.

g1

Selengkapnya, sambutan Pendeta Gomar Gultom, pada peringatan Ziarah Keadilan Iklim, tersebut adalah sebagai berikut:

Atas nama gereja-gereja di Indonesia, saya menyampaikan penghargaan atas penyelenggaraan Plgrimage for Climate Justice ini. Pemanasan global dan perubahan iklim memang telah membawa penderitaan bagi kita semua, umat manusia. Tapi kami di belahan Selatanlah yang paling menderita, karena adanya bencana banjir dan kekeringan silih berganti, musim kering berkepanjangan membawa ketidak-pastian musim hingga petani tak tahu lagi kapan harus mulai menanam dan kapan panen. Belum lagi terjadinya mutasi gen yang memunculkan jenis hama yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Krisis sumber air bersih juga terjadi karena terjadinya abrasi air laut jauh ke daratan. Penyakit pernapasan menjadi keseharian kami. Kombinasi krisis ekologis, kemiskinan dan korupsi membawa penderitaan yang tak terkira bagi kami negara-negara di Asia, seperti Indonesia.

Akar dari semua ini adalah keserakahan yang tak ada batasnya. Eksploitasi alam telah melebihi batas-batas ketika dunia diciptakan. Semuanya ini demi memenuhi keserakahan dan dahaga Rejim penguasa yang berkolusi dengan para pengusaha mengeruk sumber-sumber alam tanpa mengenal batas. Atas nama pertumbuhan ekonomi, birokrat korup dengan pengusaha menghalalkan segala cara, menempuh jalan pintas, tak perduli kelestarian alam, menggerus alam terus menggerus tanpa henti.

Ketimpangan hubungan Utara-Selatan makin mempercepat proses kerusakan alam. Kami di Selatan diminta untuk memelihara hutan tropis, sebagai paru-paru dunia. Tapi pada saat yang sama konsumerisme yang begitu parah di Utara, mengimpor beragam produk-produk dari Selatan yang dalam proses produksinya telah menghancurkan alam. Standard ganda sering diterapkan oleh Multi National Corporation dari Utara ketika beroperasi di Selatan.

Misalnya, Danau Toba yang sangat indah dan besar di Sumatera rusak parah akibat pencemaran yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dari Eropa, yang di negara asalnya sangat ketat dalam memelihara kejernihan sungai dan danau. Setiap hari perusahaan ini menebarkan lebih dari 100 ton pakan ikan per hari dan menyisakan 20% darinya menjadi residu yang membentuk lumpur di dasar danau dengan ketebalan sampai 20 cm.

Kita di ambang kiamat ekologis, dan hanya pertobatan ekologis yang kita butuhkan saat ini. Maka upaya menyelamatkan bumi haruslah menjadi pekerjaan kita bersama. Kalau kita tidak atasi  hal ini sekarang juga, dampak buruknya akan menimpa semua alam semesta.

Secara konkrit, Pendeta Gomar Gultom dalam sambutannya menghimbau masyarakat Eropa, khususnya Jerman serius melaksanakah beberapa hal penting, yakni:

  1. Mengembangkan habitus baru dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, menghentikan kerakusan dan mengembangkan spiritualitas keugaharian;
  2. Bersama menolak mengkonsumsi segala produk yang ditengarai merusak lingkungan dan mengeksploitasi hak-hak pekerja. Saya mengundang anda semua memboikotnya;
  3. Mendorong pemerintah-pemerintah untuk mengagendakan penyelamatan lingkungan dalam setiap komunikasi dan kerjasama bilateral maupun multilateral;
  4. Bersama kita memperjuangkan kebijakan global untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi dan pada saat yang sama upaya pelestarian alam.
Suasana Ziarah untuk Keadilan Iklim, sebagian peserta dari berbagai negara.
Suasana Ziarah untuk Keadilan Iklim, sebagian peserta dari berbagai negara.

Sementara itu, Dr Guillermo Kerber, Program Executive Commission of the Churches on International Affairs, mengatakan, antara lain: “Kita semua, laki-laki dan perempuan, tua muda, adalah peziarah. Sepajang peziarahan kita sejak Flensburg hingga Wuppertal ini, dan nanti dari sini ke Paris, kita berjalan. Dan dimana-mana kita menemukan kerusakan alam. Sebagaimana diungkapkan Pdt Gultom dari Indonesia, ada kontrasiksi antara negara G7 dengan negara-negara berkembang. Olehnya perjalanan kita masih jauh. Dan untuk mencapai ini, kita butuh memobilisasi gereja bersama NGO.”

Lebih lanjut Dr Kerber mengungkapkan bahwa minggu lalu telah ada pertemuan antara pemimpin-pemimpin agama, seperti Kristen, Yahudi, Islam, dan agama serta kepercayaan lain dengan Sekjen PBB di Washington. Pada pertemuan itu 150 pemimpin agama menandatangani himbauan kepada para kepala negara lebih serius menangani perubahan iklim ini, termasuk menyelesaikan gap yang terjadi antara Utara Selatan.

Kerber juga menekankan pentingnya gereja-gereja bersama NGO memobilisasi para politisi menyelesaikan masalah ini, olehnya Ziarah Keadilan Iklim ini perlu diteruskan.

Suasana peserta Ziarah untuk Keadilan Iklim di lapangan Wuppertal, Jerman. (Foto: Dok. Pribadi)
Suasana peserta Ziarah untuk Keadilan Iklim di lapangan Wuppertal, Jerman. (Foto: Dok. Pribadi)

Sementara itu, Dr Barbara Hendriks, Menteri Lingkungan Republik Federal Jerman yang juga hadir pada kesempatannitu berkata, “Apakah kita bisa sukses dalam pertemuan tingkat tinggi di Paris nanti? Minggu lalu kami sudah mengundang para pemimpin negara dan megadakan pertemuan di Bonn, yang dihadiri 190 negara. Sayangnya belum ada hasil yang menggembirakan. Sesungguhnya hal itu tidak mengherankan, yang penting sudah bertemu dan berbincang terlebih dahulu sebelum pertemuan di Paris. Memang yang hadir di Bonn bukan Kepala Negara, jadi mungkin masih sulit mengambil keputusan.”

Selanjutnya Menteri Barbara Hendriks menyampaikan bahwa kesulitan yang dihadapi adalah ketidak sediaan Amerika dan China. Kedua negara ini selalu memboikot pengurangan produksi karbondioksida. Australia, Canada dan India yang sudah mengalami dampak langsung perubahan iklim ini, mendukung perundingan, tapi China dan Amerika tetap memboikot. Menurutnya lebih dari 140 negara telah sepakat mendukung kesepakatan.

Selanjutnya Menteri Barbara Hendriks berkata, “Kami berharap bisa disepakati, pencemaran lingkungan oleh karbondioksida dikurangi hingga duapertiga. Tapi kesepakatan tidak dapat dicapai di Copenhagen karena Amerika dan China. Satu hal yang disepakati adalah agar negara-negara mendukung lebih banyak biaya untuk penanggulangan pencemaran ini.  Banyak negara katakan, cuaca yang makin panas hanya satu derajat, itu tak apa dalam 200 tahun. Tapi sesungguhnya yang kita lihat, pemanasan global itu makin cepat terjadi dari waktu ke waktu Saya berharap global warming bisa dihentikan agar tidak sampai 2 derajat.”

“Perubahan iklim yang terjadi di Eropa, tapi tidak separah apa yang terjadi di Selatan, sebagaimana digambarkan wakil dari Indonesia. Kita masih bisa tangani dampaknya, sementara di Selatan benar-benar mengalami bencana alam yang parah, sebagai akibatnya. Untuk itulah, hingga 2020 Jerman akan menginvestasi jutaan euro di negara Selatan untuk membantu penanganan bencana dan kami mau sebagai negara industri kaya, kami juga harus membantu mengatasi perubahan iklim, karena kami juga ikut menyebabkan perubahan alam ini,” demikian Menteri Barbara Hendriks menegaskan.

Menteri Barbara Hendriks juga mendorong penggunaan sumber energi matahari dan air, yang menurutnya sangat bagus karena jauh lebih murah. “Masalahnya negara berkembang berkata, itu kan agar kami tidak berkembang semaju anda, agar kami tak gunakan energi nuklir dan batubara. Sebenarnya, tidak. Ini sangat penting karena dengan energi matahari dan air bisa menyebabkan negara di selatan yang terpencil tak lagi tergantung ke sentral. Karena pembangunannya apalagi pemeliharaannya tak mahal,” demikian kata dia.

Lagi kata Menteri Barbara, “Kami mau agar harga listrik di Jerman dinaikkan untuk menyumbang pembangunan energi terbarukan. Jadi harap tidak bersungut dengan kenaikan listrik, tapi banggalah anda ikut membiayai energi terbarukan. Kita harus mengerti bahwa kita mempunyai tanggungjawab di negara selatan, karena kitalah yang merusak dan mengeksploitasi, kita harus lihat bahwa beberapa negara ini berjuang untuk tidak hilang sama sekali dari muka bumi.”