Mengikuti Tuhan Sepenuh Hati

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Aku berumur empat puluh tahun ketika aku disuruh Musa hamba Tuhan itu, dari Kadesh Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. Sedang saudara-saudaraku yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti Tuhan, Allahku dengan sepenuh hati” (Yosua 14 : 7,8).

Menjadi penganut suatu agama di tengah konteks historis yang selalu berubah bukanlah hal yang mudah. Menjadi penganut agama tidak hanya dibuktikan dari aspek luarannya saja, misalnya menjalankan kewajiban agama, beribadah di rumah ibadah, agamanya tercantum dalam dokumen kependudukan. Namun, hal yang paling berat adalah bagaimana keberagamaan itu terpelihara secara internal, yaitu iman yang tiada bergeser sedikitpun walau hidup seseorang didera derita tiada akhir.

Kita akui bahwa sebagai umat Kristen kita jatuh bangun dalam menampilkan keberagamaan kita di tengah konteks NKRI yang majemuk. Ada wilayah-wilayah tertentu di Tanah Air yang secara salah diklaim sebagai wilayah di mana hanya rumah ibadah dari agama tertentu yang boleh didirikan. Pernah terjadi berpuluh tahun yang lalu di daerah Sukabumi Selatan, Jawa Barat, warga gereja tidak bisa menyanyikan lagu Gereja karena masyarakat sekitar tidak sudi mendengar lantunan lagu gerejawi. Saat itu, solusi sementara yang diambil adalah ibadah dilakukan di rumah dengan “senyap”. Hingga kini, di era digital, masih ada wilayah di Jawa Barat di mana ibadah bersama dalam keluarga sulit dilakukan.

Kondis di atas tentu tidak terjadi di wilayah-wilayah Indonesia Timur, wilayah yang selalu dikatakan sebagai “wilayah Kristen”. Di Manado, Sulawesi Utara, misalnya hampir di setiap “kolom” berdiri gedung gereja yang relatif bagus untuk ibadah umat. Realitas itu terjadi hampir merata di wilayah Indonesia Timur dan tidak pernah ada masalah dalam soal Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gedung gereja atau dalam pelaksanaan kebaktian.

Perjumpaan kekristenan dengan dunia, dengan realitas sosiologis yang beragam, pada akhirnya berimbas pada kualitas iman,atau pada “militansi kekristenan” yang ada pada setiap warga gereja. Kawan-kawan dari Indonesia Timur tidak terbiasa berhadapan dengan resistensi terhadap pembangunan gedung gereja. Kawan-kawan itu acap mempertanyakan secara kritis resistensi yang sebagian besar tanpa argumentasi yang kukuh, kecuali skema berfikir “mayoritas-minoritas” atau sentimen keagamaan.

Pernah ada kasus lebih kurang 40 tahun yang lalu ketika sebuah komunitas Kristen di dekat kota Purwakarta mau mendirikan gedung gereja, lalu ada penolakan dari masyarakat setempat. Sebagian besar warga gereja, yang berasal dari Indonesia Timur dan pensiunan tantara, hampir meledak kemarahan mereka terhadap masyarakat setempat yang menolak pembangunan tersebut. Untunglah, dengan proses dialog dan mediasi ledakan itu bisa dihadang hingga akhirnya gedung gereja bisa berdiri di wilayah itu. Terakhir, diketahui provokator dari aksi masyarakat itu adalah seorang pensiunan pegawai dari kantor sebuah kementerian yang mengurusi soal-soal keagamaan.

Menjadi Kristen sejati memang tidak semudah yang diperkirakan orang. Dulu ada pikiran atau tuduhan, pada 2003, bahwa masuk sekolah Kristen lalu orang menjadi Kristen, demikian juga periksa MRI (pemeriksaan medis menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio untuk melihat detil bagian tubuh) di RS. Kristen lalu orang menjadi Kristen. Kristen itu bukan agama gampangan dan murahan. Komitmen dan percaya sepenuh hati kepada Allah dalam Yesus Kristus adalah faktor penting dalam kekristenan dan ini terjadi melalui prosedur dan proses yang terstandar.

Menarik ungkapan Kaleb kepada Yosua, sebagaimana dikutip dari kitab Yosua, di mana ia mengingatkan Yosua bahwa ia sudah dijanjikan Musa akan memperoleh lahan di usia 40 tahun. Kini pada usia 85 tahun, sesudah 45 tahun berlalu, ia mengingatkan Yosua tentang hal itu mengingat usianya makin uzur. Kaleb adalah anggota Tim Pengintai yang diutus untuk melihat on the spot bagaimana sebenarnya Tanah Perjanjian yang diberikan Tuhan kepada umat (Yosua 2).

Kaleb menyatakan dalam menanti 45 tahun pemenuhan janji Musa ia “tetap mengikuti Tuhan, Allahku, dengan sepenuh hati”. Kaleb setia. Ia konsisten dan teguh iman. Imannya kepada Tuhan tetap, konstan, tidak berubah. Ia lakukan itu dengan sepenuh hati, dengan seluruh kediriannya; tidak setengah-setengah, tidak parsial. Kaleb adalah gambar figur orang beriman yang setia kepada Tuhan dalam melewati berbagai peristiwa sejarah dengan seluruh dinamikanya. Ia mengingatkan Yosua, tentang janji Musa 40 tahun yang lalu kepadanya, untuk menjelaskan perannya sehingga umat lebih siap memasuki Tanah Kanaan yang Allah janjikan.

Kita harus mengikuti Tuhan sepenuh hati melewati tahun-tahun sukacita dan dukacita. kita harus menorehkan sejarah dalam kehidupan kekristenan dan dalam kehidupan masyarakat luas melalui beragam cara dan bentuk, sesuai dengan talenta dan kompetensi kita. Kita harus mewujudkan kekristenan otentik, kekristenan sejati yang menampilkan cinta kasih, sukacita, pengampunan, dan kasih kepada setiap orang.

 

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT PGI 2019 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*