
Oleh Pdt. Weinata Sairin
“Audacter calumniare, semper aliquid haeret, Memfitnah secara gegabah selalu (akan) menggoreskan sesuatu (yang buruk)”
Interaksi antarumat manusia dalam kondisi-kondisi tertentu diwarnai oleh fitnah. Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disusun Badudu-Zein (1996), mengartikan fitnah sebagai “perkataan atau pembicaraan yang sengaja disebarkan untuk menjelek-jelekkan orang agar orang mempunyai kesan buruk terhadap orang yang difitnah itu”. Fitnah secara sengaja dilakukan oleh pribadi dan/atau kelompok ketika ada konflik sehingga koflik itu berlarut-larut dan berlangsung dalam waktu yang lama. Konten fitnah sudah bisa diduga, yaitu hal-hal yang amat sensitif dan “laku dijual” dan “garing jika digoreng”. Misalnya, kasus hubungan pria-wanita, kasus korupsi, kasus suap atau ijazah dan gelar palsu dan isu pindah agama.
Apapun alasannya, bagaimanapun buruknya relasi kita dengan seseorang, kondisi apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, tindakan memfitnah adalah tindakan tak elok dan tidak terpuji bahkan sebuah tindakan yang bertentangan dengan nilai luhur ajaran agama.
Agama-agama mengajarkan kepada umatnya agar saling mengasihi, saling menghormati, saling tolong menolong diantara sesama manusia tanpa menghiraukan keberbedaan yang ada. Semangat persahabatan harus terus menerus ditumbuh-kembangkan diantara sesama yang pada gilirannya menghadirkan suasana damai dan sejahtera dalam kehidupan masyarakat luas.
Sayangnya, ajaran agama yang melarang umat untuk tidak melakukan fitnah kurang diperhatikan, bahkan tidak dilaksanakan sepenuhnya dalam kehidupan umat beragama itu sendiri. Dalam berbagai organisasi keagamaan, termasuk dalam parpol berbasis agama, bahkan dalam organisasi keagamaan, acap kita baca kisah tentang gelombang fitnah yang digoreng pada saat terjadi pemilihan pengurus baru.
Ajaran agama semestinya telah menjadi bagian padu dari kedirian umat beragama; tak boleh ada sikap ambivalen dan paradoks dalam kehidupan beragama. Keberagamaan kita semestinya merupakan keberagamaan yang utuh, kafah dan bukan yang parsial (yang kita praktekkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan).
Ke depan, dalam sebuah dunia yang keras, hubungan antarmanusia harus dibangun dalam basis persahabatan, tidak dalam konteks membesarkan fitnah.
Kisah Abraham Lincoln di zaman dulu cukup menarik untuk disimak dalam konteks pentingnya persahabatan. Pada zaman dulu, Lincoln sering menerima permohonan maaf yang jumlahnya ribuan dari para prajurit yang terlibat dalam pelanggaran disiplin militer. Tiap-tiap permohonan maaf itu biasanya didukung oleh rekomendasi dari orang-orang yang berpengaruh. Pada suatu hari, diterima olehnya permohonan maaf dari seorang prajurit yang tidak mempunyai teman untuk memberi rekomendasi kepadanya.
Lalu Lincoln bertanya, “Apakah orang ini tidak mempunyai seorang sahabat pun?” “Tidak pak, tidak ada seorang pun !” kata ajudannya. “Jika begitu, akulah yang akan jadi sahabatnya!” kata Lincoln.
Sikap Lincoln dengan kesediaannya menjadi sahabat agar prajuritnya itu mendapatkan rekomendasi sangat terpuji. Realitas seperti itu, yang ditunjukkan oleh seorang presiden, menjadi teladan yang sangat positif mengenai bagaimana relasi antar manusia dibangun tanpa mempersoalkan pangkat, jabatan dan status.
Jika dimensi persahabatan lebih dikedepankan dalam relasi antar manusia di semua level, termasuk pada aras global, maka sejarah manusia akan tampil dalam wajah yang sama sekali lain.
Manusia telah terpenjara dalam sebuah kehidupan yang di dalamnya kompetisi yang tidak sehat terjadi; ada konflik, amuk, pertikaian, teror, mungkin juga ada genocide; fitnah, pembunuhan berencana dan sebagainya. Menurut pepatah yang dikutip di awal, fitnah menggoreskan sesuatu yang buruk dalam sejarah. Fitnah laku keras mungkin di zaman barbar, tetapi fitnah bukan gaya dan prilaku manusia modern yang menghormati fakta dan realitas. Mari bersemikan tunas persahabatan dalam ruang-ruang sejarah. Fitnah, iri hati, dendam dan kebencian adalah kelampauan yang harus terkubur bersama zaman yang berlalu. Umat beragama yang taat beribadah pasti menjauhi fitnah, hoax,provokasi.
Editor: Beril Huliselan
COPYRIGHT PGI 2019
Be the first to comment