Doa Bersama dan Deklarasi “LBH Rumah Kita”

Sejumlah aktivis, tokoh agama dan masyrakat menunjukkan Deklarasi “LBH Rumah Kita” yang telah ditandatangani. (Foto: Liputan 6.com)

JAKARTA,PGI.OR.ID-Aktivis, tokoh agama, dan masyarakat melakukan doa bersama serta Deklarasi “LBH Rumah Kita” di pelataran LBH, Jakarta, Senin (25/9). Saat Deklarasi, mereka membubuhkan tanda tangan. Pasca penyerangan, LBH membuka kembali kantor dan gedung serta layanan bantuan hukumnya.

Inilah isi Deklarasi “LBH Rumah Kita”.

 

LBH Rumah Kita

Mengapa Dewi Justitia digambarkan memegang timbangan dan menghunus pedang dengan mata tertutup?

Sebab mata manusia kadang tak dapat bertindak adil. Ia bisa menjebak seseorang dalam prasangka warna kulit, bentuk rambut, bahkan gaya berpakaian dan identitas-identitas lain. Lalu dia mulai memilih dan memilah mana yang “kami” dan mana yang “mereka”.

Jika ini terjadi, hari itu juga keadilan akan mati. Sebab keadilan tak hanya di meja-meja hakim. Keadilan harus hadir sejak dalam pikiran dan itikad. Maka sebagai Lembaga Bantuan Hukum, LBH telah melalui ujian sejarah yang panjang dan mampu bertahan.

Kelompok Islam korban stigma, minoritas yang ditindas, tahanan politik dari Aceh hingga Papua, rakyat tergusur di kota dan petani di desa, buruh yang dirumahkan, hingga pensiunan tentara, semua didampingi untuk mendapatkan hak-hak hukumnya. Tak harus selalu setuju dengan apa yang sedang diperjuangkan, tapi semua orang punya hak hukum yang sama.

Namun, LBH bukan Dewi Justitia.

Ia kadang mengintip lewat sela penutup mata untuk melihat siapa yang akan dibantunya. Dengan segala keterbatasan, ia terpaksa harus memilih. Bukan memilih siapa yang segolongan atau sealiran, tetapi memilih siapa yang paling membutuhkan.

Rakyat miskin yang tak sanggup membayar pengacara, mereka yang tak memiliki akses kekuasaan, tak mampu membela diri di media, atau saudara sebangsa yang awam hukum sebagai buah dari sistem pendidikan, adalah mereka yang sengaja dipilih dengan mata yang tidak sepenuhnya tertutup.

Maka LBH adalah Rumah Kita. Bukan rumah kami atau rumah mereka. Dalam “kita”, ada aku, kamu dan dia.

Dalam kita, ada ribuan korban ketidakadilan dan harapan. Dalam kita ada barisan yang semakin rapat untuk memastikan bahwa masa depan kemanusiaan tidak boleh kalah dan tunduk di kaki para tiran.

 

Jakarta, 25 September 2017

Masyarakat Sayang LBH