
JAKARTA,PGI.OR.ID Lesunya ekonomi dunia membuat Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah dalam menggerakan ekonomi demi kesejahteraan dan pemerataan. Catatan Bank Dunia (Januari 2019) dan International Monetary Fund (Januari 2019) paling tidak memperlihatkan tren lesunya ekonomi dunia, sebagaimana disinggung oleh Prof. Sri Adiningsih dalam diskusi Pikiran Pokok Sidang MPL PGI, mengenai Spiritualitas Keugaharian: Membangun Demokrasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua, di Royal Safari Garden, Bogor, pada 28 Januari 2019. Bagi Prof Sri, kelesuan ini menunjukan perubahan peta ekonomi dunia. Ini terlihat dari melemahnya ekonomi Cina serta bekembangnya kebijakan proteksionis di Amerika dan Eropa.
Indonesia berada di tengah kelesuan ini menurut Prof. Sri. Karena itu, dibutuhkan perubahan. mindset untuk menghadapi perubahan peta ekonomi dunia dan dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang stabil dengan berolak dari pinggiran. Pembangunan stabilitas ekonomi penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan. Dalam catatan Prof Sri, memang ada banyak persoalan harus diatasi. Namun, Indonesia sesungguhnya memperlihatkan pergerakan ekonomi yang lebih tinggi di bandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini menunjukan adanya perbaikan fondasi ekonomi yang pada gilirannya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas manusia, misalnya terlihat dalam perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Indonesia juga dalam catatan Prof. Sri mengalami perkembangan dalam ekonomi digital seiring perbaikan elektrisitas dan teknologi informasi.
Dalam diskusi ini, Pdt. Zakaria Ngelow, pembicara kedua, mengingatkan para peserta Sidang MPL PGI terhadap empat krisis yang sudah digumuli dan ditetapkan sebagai arah bersama misi gereja-gereja di Indonesia; keempat krisis tersebut adalah krisis ekologi, kemiskinan, radikalisme dan ketidakadilan. Masyarakat Indonesia menghadapi keempat krisis ini di tengah berlangsungnya demokrasi prosedural yang berkelindan dengan persoalan HAM dan kejahatan di wilayah ekonomi dan politik.
Dalam situasi ini, Pdt. Zakaria mengingatkan bahwa pilihan gereja-gereja di Indonesia adalah ambil bagian dalam kampanye hidup yang berkecukupan, membangun ekonomi kerakyatan dan memperjuangkan ekonomi rakyat. Ini sejalan dengan posisi ekklesiologi yang tergambar dalam Dokumen Keesaan Gereja (DKG), yakni gereja sebagai sahabat Allah; gereja yang tidak hanya bernyanyi saja, namun juga ambil bagian dalam pergulatan sosial.
Pewarta: Beril Huliselan
COPYRIGHT PGI 2019
Be the first to comment