
Oleh Pdt. Weinata Sairin
“Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia : Beginilah firman Tuhan,
Allah Daud bapa leluhurmu : Telah Ku dengar doamu dan telah Kulihat
airmatamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu
lima belas tahun lagi….” (Yesaya 38 :5)
Dalam upaya memperkuat relasi antar manusia, pada tataran horizontal, ada banyak bentuk yang bisa dilakukan. Ada saling kunjung dan pertemuan silaturahim, ada acara week end atau berlibur bersama ke luar kota, ada saling berbagi informasi. Di era digital, penguatan relasi bisa dilakukan melalui media sosial whatsapp, tweeter, facebook, instagram, telegram, telepon dan sebagainya.
Saling membagi persoalan/pergumulan dan mendapatkan saran/masukan adalah juga salah satu wujud komunikasi yang memperkuat relasi antarpribadi. Dalam konteks kehidupan kristiani, penguatan relasi antarumat seiman tentu saja bisa dilakukan melalui aktivitas gerejawi, baik dalam ibadah maupun dalam program/aktivitas lainnya.
Di masa kini, kegiatan gerejawi itu sangat banyak dan hampir terisi seluruh hari dalam seminggu. Ada ibadah hari Minggu yang di gereja besar bisa berlangsung 3-5 kali dalam satu hari Minggu. Ada kegiatan Komisi (kategorial dan non kategorial), kegiatan panitia, kelompok kerja, tim, gugus tugas, wilayah/sektor, kesekretariatan, dan lain sebagainya. Semuanya dikelola secara profesional oleh majelis Jemaat dalam kordinasi seorang/beberapa pendeta jemaat yang dipangiil secara full time oleh Jemaat.
Dalam keorganisasian majelis Jemaat, biasanya dikembangkan ‘kepemimpinan kolegial’ yang di dalamnya pendeta yang full time bertindak tidak sebagai “komandan/bos”, tetapi dalam kapasitas seorang gembala/pastor, dalam perspektif primus inter pares yang mengkordinasikan seluruh elemen agar berjalan dengan lancar.
Relasi dan komunikasi dengan Allah, Khalik Semesta Alam, dilakukan oleh manusia secara terus menerus dalam berbagai bentuk. Relasi melalui ibadah, pembacaan Alkitab, pujian rohani, berdoa, secara kontinu dilakukan, baik di gedung Gereja, maupun di rumah atau di kantor tempat kita bekerja. Komunikasi dengan Allah melalui doa pribadi sangat penting diwujudkan secara rutin dan berkesinambungan sehingga relasi kita dengan Allah terawat dengan baik. Doa-doa pribadi kepada Allah adalah media yang memungkinkan kita mengungkapkan pergumulan kita kepada Allah.
Dalam doa pribadi kepada Allah – di waktu pagi, siang, malam – biasanya kita bersyukur dan memohon hal-hal yang berhubungan dengan pribadi, komunitas dan orang-orang yang berhubungan dengan kita. Dalam tradisi kristen, kita tidak punya rumusan teks doa standar untuk pagi, siang dan malam; doa adalah ungkapan bahasa pribadi kita kepada Allah. Teks Doa standar yang kita miliki hanya Doa Bapa Kami, yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.
Acapkali yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa Allah tidak menjawab doa-doa kita? Atau, mengapa Allah lama menjawab doa kita? Dari pengalaman empirik, kita mendapatkan informasi bahwa ada waktu 5 sampai 8 tahun pasangan suami istri menunggu jawaban doa mereka untuk mendapatkan seorang anak. Ada juga pengalaman umat yang doanya cepat sekali dijawab oleh Tuhan. Menarik sekali bacaan dalam kitab Yesaya ini yang menceritakan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa Hizkia, dalam Yesaya 38 : 3, menaikkan doa kepada Allah. Ia menyatakan dalam doanya bahwa ia telah hidup di hadapan Tuhan dengan setia, tulus hati, telah melakukan apa yang baik dimata Tuhan. Seusai doa, Hizkia menangis. Ia lakukan itu karena sudah diberitahu melalui nabi Yesaya bahwa ia akan mati (38:1). Secara definitif, dinyatakan oleh Tuhan bahwa hidup Hizkia diperpanjang hingga 15 tahun lagi. Luar biasa, Tuhan menjawab doa Hizkia dengan sangat detil. Di zaman itu, jawaban Tuhan bisa langsung diterima melalui nabi, tanpa menunggu lama.
Dari cerita Hizkia memang jelas sekali bahwa ia hidup dengan setia, tulus hati, berbuat baik. Kualitas spiritual seperti ini yang membuat Tuhan segera menjawab dan mengabulkan doa Hizkia. Hizkia juga masih diperlukan Allah untuk menata dan membangun komunitas Allah di tengah zaman. Tuhan menjawab doa umatNya sesuai dengan kairosNya, sesuai dengan agenda dan rencana Allah. Jawaban doa juga masih dipengaruhi oleh kualitas spiritual umat.
Bacaan ini memberikan inspirasi bagi kita di zaman modern sekarang ini bagaimana menampilkan kekristenan sejati, yang setia dan mengasihi Allah seutuhnya. Perilaku kekristenan seperti itu yang membuat Tuhan menjawab doa-doa kita, memperhitungkan kedirian kita dan bahkan menambah umur kehidupan sehingga kita bisa mengukir karya terbaik bagi Allah dan sesama di sepanjang sejarah kehidupan kita. Mari terus berdoa dan berdoa sepanjang hidup yang Allah anugerahkan. Jangan pernah lelah untuk berdoa, berdoa bagi diri sendiri dan berdoa bagi orang lain, termasuk bagi bangsa dan negara kita.
Penulis adalah mantan Wakil Sekum PGI
Editor: Beril Huliselan
COPYRIGHT © PGI 2019
Be the first to comment